Bekali Calon Mutawwif, FFP Universitas Paramadina Bahas Komunikasi hingga Kesehatan Mental

Bekali Calon Mutawwif, FFP Universitas Paramadina Bahas Komunikasi hingga Kesehatan Mental

Dekan FFP Universitas Paramadina, Dr. Rini, mengatakan seorang mutawwif memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan jamaah yang berasal dari berbagai latar belakang budaya...


KUALA LUMPUR, UMMATTV.COM Menjadi mutawwif di tengah jamaah dari berbagai negara membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis dalam mendampingi pelaksanaan ibadah. Kemampuan berkomunikasi, memahami perbedaan budaya, mengelola emosi, hingga menghadapi tekanan menjadi kompetensi penting yang perlu dimiliki seorang mutawwif.

Perspektif tersebut menjadi salah satu fokus program International Community Service Fakultas Falsafah dan Peradaban (FFP) Universitas Paramadina di Professional Mutawwif Development International University College (PMDUC), Malaysia, (3/9/2026).

Sisipkan gambar ...

Mengusung tema “Interdisciplinary Perspectives in Communication, International Relations & Psychology”, kegiatan tersebut diikuti lebih dari 120 mahasiswa PMDUC yang dipersiapkan menjadi generasi baru mutawwif.

Program ini mempertemukan sejumlah bidang keilmuan, yakni Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Psikologi, dan Ilmu Agama untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tantangan profesi mutawwif di lingkungan global.

Sisipkan gambar ...

Dekan FFP Universitas Paramadina, Dr. Rini Sudarmanti, mengatakan seorang mutawwif memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan jamaah yang berasal dari berbagai latar belakang budaya dan negara.

“Seorang mutawwif tidak cukup hanya menguasai aspek teknis penyelenggaraan ibadah. Mereka juga membutuhkan kemampuan memahami perbedaan budaya, berkomunikasi secara empatik, mengelola emosi, serta menjaga kualitas pelayanan ketika menghadapi situasi yang penuh tekanan,” ujarnya.

Mutawwif sebagai Duta di Tengah Keragaman

Dalam perspektif Hubungan Internasional, para peserta diajak memahami posisi mutawwif sebagai pihak yang secara langsung membawa identitas dan citra negaranya ketika mendampingi jamaah di luar negeri.

Karena itu, kemampuan adaptasi lintas budaya menjadi bagian penting dalam profesi tersebut. Interaksi dengan jamaah maupun masyarakat setempat membutuhkan sikap terbuka, penghargaan terhadap perbedaan, serta kemampuan membaca konteks sosial dan budaya.

Sementara dari perspektif Ilmu Komunikasi, peserta diperkenalkan dengan pentingnya komunikasi empatik dalam memberikan pelayanan kepada jamaah.

Komunikasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan menyampaikan informasi, tetapi juga mencakup kemampuan mendengarkan, membaca situasi, memahami kebutuhan jamaah, dan memilih cara penyampaian yang tepat.

Dengan pendekatan tersebut, pelayanan seorang mutawwif diharapkan tidak berhenti pada penyampaian informasi ibadah, tetapi juga mampu menciptakan rasa aman, nyaman, dan kepercayaan bagi jamaah.

Gen Z dan Tantangan Kesehatan Mental

Kegiatan tersebut juga memberikan perhatian terhadap karakter generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan digital.

Mahasiswa calon mutawwif yang sebagian besar berasal dari Generasi Z menghadapi paparan media sosial dan internet yang sangat intens. Kondisi tersebut dapat memunculkan berbagai tantangan, termasuk fear of missing out (FOMO), penggunaan internet secara berlebihan, serta persoalan dalam pengelolaan emosi dan stres.

Program Studi Sarjana Psikologi dan Magister Psikologi FFP Universitas Paramadina kemudian memberikan psikoedukasi mengenai perilaku berinternet yang sehat, pengelolaan emosi, serta strategi menghadapi stres.

Peserta juga diajak mempraktikkan teknik grounding sebagai salah satu metode untuk membantu mengenali kondisi emosional dan menghadapi tekanan.

Sejumlah peserta menyambut positif kegiatan tersebut. Salah seorang mahasiswa menilai kegiatan berlangsung menyenangkan sekaligus memberikan pengetahuan baru.


Peserta lainnya mengungkapkan bahwa praktik grounding memberikan pengalaman berharga karena membantu mengenali dan mengelola stres serta mengekspresikan apa yang sedang dirasakan.

Melalui pendekatan lintas disiplin tersebut, FFP Universitas Paramadina berupaya memastikan calon mutawwif tidak hanya memiliki kemampuan dalam aspek pelayanan ibadah, tetapi juga kesiapan menghadapi kompleksitas manusia dan lingkungan global.

Sisipkan gambar ...

Sebelumnya :