Tak kalah menarik, D-8 HEI memfasilitasi courtesy meeting antara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan delegasi bisnis dari Iran.
JAKARTA UMMATTV.COM — Hari ketiga D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 berlangsung semakin dinamis. Berbagai diskusi strategis mengenai investasi syariah, perdagangan halal global, pariwisata ramah muslim, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam ekosistem halal menjadi magnet utama bagi para peserta dan delegasi dari negara-negara anggota D-8.
Rangkaian HEI Talks menghadirkan empat sesi diskusi yang mengupas peluang penguatan ekonomi halal dunia.
Sesi pertama bertajuk "Unlocking Blended Financing in D-8 through Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) and Cash Waqf Linked Deposit (CWLD)" membahas berbagai inovasi pendanaan syariah. Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Dr. Dadang Muljawan, bersama Direktur Keuangan Sosial Syariah KNEKS, Dr. Dwi Irianti Hadiningdyah, menekankan pentingnya pengembangan instrumen pembiayaan syariah sebagai daya tarik investasi, termasuk bagi investor internasional.
Diskusi berlanjut pada sesi kedua bertema "Driving the Future of Global Halal Trade & Economy Intra D-8" yang menghadirkan perwakilan Bangladesh, Malaysia, dan Mesir. Para narasumber membahas peluang memperkuat perdagangan halal antarnegara D-8, termasuk perluasan kerja sama pengakuan sertifikasi halal. Indonesia dinilai memiliki posisi strategis setelah terjalinnya Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan Malaysia melalui BPJPH dan JAKIM.
Potensi sektor pariwisata halal menjadi fokus sesi ketiga. Melalui tema "Developing Muslim-Friendly Tourism for Sustainable Economic Growth in D-8", para pembicara memaparkan bagaimana industri wisata ramah muslim dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui sinergi pemerintah, pelaku industri, dan negara-negara anggota D-8.
Sementara itu, sesi penutup mengangkat tema "Reviving Investment & Business Ethic to Redefine Future Halal Intelligence". Diskusi menyoroti pentingnya etika bisnis dan investasi syariah dalam pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial (AI), sehingga perkembangan ekosistem halal tetap mengedepankan transparansi, akuntabilitas, dan nilai-nilai syariah.
Selain forum diskusi, hari ketiga D-8 HEI juga diwarnai kunjungan Duta Besar Designate Bangladesh untuk Indonesia, Hasan Mridha, yang memberikan apresiasi atas penyelenggaraan expo. Ia menyampaikan harapan agar momentum ini mampu memperluas kerja sama perdagangan Indonesia–Bangladesh, khususnya pada sektor komoditas unggulan.
Kegiatan business matching antara Kadin Indonesia dan Indonesia-Bangladesh Chamber of Commerce and Industry (IBCCI) turut membuka peluang kemitraan bisnis baru bagi pelaku usaha kedua negara.
Tak kalah menarik, D-8 HEI memfasilitasi courtesy meeting antara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan delegasi bisnis dari Iran. Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama di sektor peternakan, frozen food, bioteknologi, serta industri perisa (flavoring).
Kolaborasi ini diharapkan membuka akses pasar Indonesia ke kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah sekaligus meningkatkan kualitas industri peternakan nasional. Di sisi lain, Iran berpeluang memperluas pasar produk bioteknologi dan perisa ternaknya ke Indonesia.
Melalui rangkaian agenda tersebut, D-8 Halal Expo Indonesia 2026 semakin menegaskan perannya sebagai forum strategis untuk memperkuat jejaring bisnis, investasi, dan inovasi dalam membangun ekosistem ekonomi halal yang inklusif dan berdaya saing global.