Ketika seorang ayah meluangkan waktu mendengarkan anaknya, membimbingnya salat, mengajaknya berdiskusi, atau sekadar menemani makan malam bersama keluarga
Oleh : Sukamta, Ph.D. Wakil Ketua Komisi I DPR RI
Tidak banyak yang menyadari bahwa perubahan besar yang sedang terjadi di dunia sesungguhnya bukan hanya soal teknologi.
Kecerdasan buatan, media sosial, dan digitalisasi memang mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan berkomunikasi. Namun perubahan yang paling mendasar justru terjadi pada cara anak-anak bertumbuh dan membangun pandangan hidupnya.
Jika dahulu keluarga menjadi ruang utama pembentukan karakter, kini anak-anak tumbuh di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti.
Dalam satu hari mereka dapat menerima ribuan pesan, gambar, video, dan berbagai pandangan hidup dari orang-orang yang bahkan tidak pernah mereka kenal. Mereka hidup di dunia yang jauh lebih luas dibandingkan generasi orang tuanya.
Karena itu, tantangan keluarga hari ini tidak lagi sama dengan dua atau tiga dekade yang lalu.
Dulu banyak ayah bekerja keras agar keluarga tidak kekurangan sandang, pangan, dan pendidikan. Tantangan itu tentu masih ada, tetapi bukan lagi satu-satunya persoalan. Hari ini, ketika kebutuhan material relatif lebih mudah dipenuhi, justru muncul tantangan baru yang jauh lebih rumit: bagaimana menjaga agar anak tidak kehilangan arah di tengah begitu banyak pilihan dan pengaruh.
Pertanyaan yang layak direnungkan adalah, siapa yang sebenarnya paling banyak membentuk cara berpikir anak-anak kita hari ini?
Apakah keluarga?
Apakah sekolah?
Ataukah justru layar telepon genggam yang setiap hari mereka genggam?
Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari berinteraksi dengan media digital. Algoritma media sosial mengenali apa yang mereka sukai, lalu terus menyajikan konten yang serupa. Perlahan, tanpa disadari, algoritma bukan hanya memengaruhi apa yang mereka tonton, tetapi juga apa yang mereka anggap benar, menarik, dan layak diperjuangkan.
Di sinilah letak tantangan terbesar seorang ayah pada masa kini.
Peran ayah tidak cukup dipahami hanya sebagai pencari nafkah. Tanggung jawab itu tetap mulia dan tidak tergantikan, tetapi zaman menuntut sesuatu yang lebih. Anak membutuhkan sosok yang dapat menjadi tempat bertanya, tempat pulang, dan tempat meneguhkan nilai-nilai kehidupan ketika mereka mulai menghadapi kebingungan yang dibawa oleh dunia digital.
Kehadiran ayah menjadi semakin penting justru ketika begitu banyak pihak berusaha merebut perhatian anak.
Karena itu, kehadiran tidak boleh dimaknai hanya sebagai keberadaan secara fisik. Seorang ayah bisa saja setiap hari berada di rumah, tetapi pikirannya selalu sibuk dengan pekerjaan atau telepon genggam. Sebaliknya, ada ayah yang waktu kebersamaannya tidak terlalu panjang, tetapi mampu membangun percakapan yang hangat, mendengarkan tanpa menghakimi, dan membuat anak merasa dihargai. Kehadiran seperti inilah yang membangun kedekatan.
Anak-anak juga memiliki kemampuan yang luar biasa dalam membaca keteladanan. Mereka mungkin lupa nasihat yang diucapkan, tetapi sangat jarang lupa terhadap kebiasaan yang mereka lihat setiap hari.
Ketika ayah disiplin menjalankan salat berjamaah, menjaga tutur kata, menepati janji, menghormati ibunya, dan bersikap jujur dalam pekerjaan, sesungguhnya ia sedang memberikan pelajaran yang paling berharga. Pendidikan karakter selalu lebih efektif melalui teladan daripada ceramah.
Rumah pun perlu dipandang lebih dari sekadar tempat tinggal. Rumah adalah ruang pertama tempat anak belajar tentang kasih sayang, rasa aman, dan penghargaan terhadap sesama. Jika suasana itu tidak mereka temukan di rumah, mereka akan mencarinya di tempat lain. Tidak semua tempat itu membawa kebaikan.
Karena itu, membangun keluarga yang hangat bukanlah pekerjaan sambilan. Ia adalah investasi jangka panjang bagi masa depan anak sekaligus bagi masa depan bangsa.
Sering kali orang tua begitu sibuk mempersiapkan masa depan anak melalui sekolah terbaik, kursus terbaik, dan berbagai keterampilan. Semua itu penting. Namun ada bekal yang nilainya jauh lebih besar, yaitu iman yang kokoh, karakter yang baik, integritas, semangat belajar, kepedulian kepada sesama, dan kemampuan membedakan yang benar dari yang salah. Bekal inilah yang akan menemani mereka ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan, jauh setelah orang tuanya tidak lagi mendampingi.
Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonominya atau kecanggihan teknologinya. Bangsa yang kuat selalu ditopang oleh keluarga-keluarga yang kuat. Dan keluarga yang kuat lahir dari orang tua yang memahami perannya, saling menguatkan, serta hadir dalam proses tumbuh kembang anak.
Menjadi ayah tidak pernah sekadar menjalankan fungsi biologis atau memenuhi kewajiban ekonomi. Menjadi ayah adalah mengambil tanggung jawab untuk menghadirkan arah ketika dunia menawarkan terlalu banyak pilihan, menghadirkan ketenangan ketika anak dibanjiri kegelisahan, dan menghadirkan nilai ketika begitu banyak suara berusaha mendefinisikan benar dan salah menurut versinya masing-masing.
Zaman akan terus berubah. Teknologi akan semakin canggih. Kecerdasan buatan mungkin mampu menjawab hampir semua pertanyaan yang diajukan manusia. Namun ada satu hal yang tidak akan pernah mampu diciptakannya: hubungan batin yang lahir dari kasih sayang, keteladanan, dan doa seorang ayah.
Anak-anak pada akhirnya mungkin tidak akan mengingat setiap nasihat yang pernah mereka dengar. Mereka juga mungkin lupa hadiah-hadiah yang pernah diterima. Tetapi mereka akan selalu mengingat siapa yang hadir ketika mereka takut, siapa yang tetap percaya ketika mereka gagal, dan siapa yang, melalui kehidupan sehari-hari, mengajarkan arti kejujuran, tanggung jawab, dan keimanan.
Di tengah derasnya perubahan zaman, kehadiran seorang ayah bukan sekadar kebutuhan sebuah keluarga. Ia adalah kebutuhan sebuah bangsa. Sebab peradaban yang kuat tidak pertama-tama dibangun di ruang sidang, di gedung-gedung pemerintahan, atau di pusat-pusat teknologi. Peradaban selalu bertumbuh dari rumah-rumah yang di dalamnya hadir ayah dan ibu yang bersama-sama menanamkan iman, akhlak, dan harapan kepada generasi berikutnya.
Mungkin inilah ikhtiar besar yang sering luput dari perhatian. Ketika seorang ayah meluangkan waktu mendengarkan anaknya, membimbingnya salat, mengajaknya berdiskusi, atau sekadar menemani makan malam bersama keluarga, ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang tampak. Ia sedang menanam benih peradaban yang buahnya mungkin baru akan dipetik puluhan tahun kemudian.