Forum ini juga menegaskan lima misi utama: memperingati Hari Dialog Antar-Peradaban, memperkuat kontribusi Indonesia bagi perdamaian globa
JAKARTA UMMATTV.COM — Dalam rangka memperingati *International Day for Dialogue Among Civilizations*, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia (DPR RI/DPD RI) menggelar konferensi internasional bertajuk *“Memperkuat Iman dan Membangun Perdamaian: Menyelaraskan Peradaban Global dari Indonesia untuk Dunia”*, Rabu (10/6).
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan internasional, di antaranya adalah Wakil Ketua MPR RI Dr. Hidayat Nur Wahid, Waketum MUI KH Anwar Abbas, cendekiawan Prof. M. Din Syamsuddin, Wakil Menlu RI Dr. Anis Matta, dan sekitar 35 Duta Besar negara sahabat.
Turut hadir pula Ustadz Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., MA, Ketua MUI Bidang Ukhuwah Islamiyah sekaligus Ketua Umum Wahdah Islamiyah.
Dalam keterangannya, Ustadz Zaitun menegaskan pentingnya dialog antarperadaban sebagai jalan strategis dalam menghadapi konflik global dan melawan ketidakadilan internasional. “Indonesia memiliki posisi yang strategis dalam memperkuat ukhuwah global—baik Islamiyah, wathaniyah, maupun basyariyah. Forum seperti ini sangat penting untuk menggalang kekuatan moral dunia dalam melawan hegemoni kekuasaan yang zalim,” tegasnya. “Perdamaian dunia hanya mungkin terwujud jika umat beriman di seluruh dunia bersatu melawan kezaliman dan menegakkan keadilan,” tambahnya.
Ketua MUI Bidang HLN-KI, Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, menyampaikan bahwa forum ini merupakan respons atas krisis global, termasuk agresi brutal AS-Israel terhadap Iran dan tragedi kemanusiaan berkepanjangan di Gaza. “Apa yang terjadi di Gaza dan Timur Tengah adalah potret nyata runtuhnya nilai-nilai peradaban. MUI menilai penting untuk menggaungkan kembali semangat kemanusiaan dan mendorong penguatan kerja sama antar masyarakat sipil lintas negara dan agama,” jelas Prof. Sudarnoto.
Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dr. Anis Matta, menyoroti pentingnya Indonesia memainkan peran dalam diplomasi berbasis nilai.
““Dunia hari ini sedang berada dalam fase transisi besar. Tatanan lama perlahan runtuh, sementara tatanan baru belum sepenuhnya lahir. Dalam situasi seperti ini, konflik global menjadi bagian yang sulit dihindari,” ujar Anis Matta dalam Forum Dialog Global.
Ia menegaskan bahwa peradaban dibangun oleh lima pilar: agama sebagai sumber nilai, demokrasi sebagai mekanisme kolektif, kemakmuran sebagai tujuan, sains sebagai cara mengelola kehidupan, dan seni sebagai ekspresi keindahan. Menurutnya, dunia membutuhkan platform peradaban baru yang lebih adil, kolaboratif, dan mampu menyatukan umat manusia di tengah krisis global dan melemahnya institusi internasional.
Forum ini juga menegaskan lima misi utama: memperingati Hari Dialog Antar-Peradaban, memperkuat kontribusi Indonesia bagi perdamaian global, mempererat hubungan antar tokoh lintas agama dan negara, merumuskan pesan bersama untuk merespons kekacauan global, serta mempromosikan moderasi beragama (wasathiyyah Islam) sebagai identitas keislaman Indonesia di ranah internasional.
Acara ditutup dengan pembacaan pesan damai bersama dan seruan konkret untuk membangun dunia yang lebih adil, merdeka dari hegemoni, dan berpihak pada kemanusiaan.