Aku tahu, Qur’an bukan sekadar bacaan, tapi penuntun jalan. Ia menenangkan hati, menguatkan jiwa, dan menjadi teman di saat sendiri.
Kenapa aku malas baca Qur’an? Padahal aku tahu itu petunjuk hidupku. Kenapa aku sering menunda padahal aku punya waktu untuk hal lain. Kenapa hatiku terasa berat saat membukanya, tapi ringan saat sibuk dengan dunia. Padahal di dalamnya ada ketenangan yang kucari, ada jawaban atas kegelisahanku.
Mungkin karena hatiku mulai jauh, karena dosa yang tak kusadari menumpuk perlahan. Mungkin karena aku lebih mencintai kesibukan daripada kedekatan dengan Allah. Padahal Allah telah mengingatkan bahwa hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang, namun aku masih saja lalai.
Aku sering merasa lelah, tapi tetap kuat untuk hal dunia. Aku merasa sibuk, tapi masih sempat membuka hal-hal yang tidak bermanfaat. Lalu kenapa untuk Qur’an aku merasa tidak mampu? Padahal satu ayat pun yang kubaca bisa menjadi cahaya dalam hidupku.
Aku tahu, Qur’an bukan sekadar bacaan, tapi penuntun jalan. Ia menenangkan hati, menguatkan jiwa, dan menjadi teman di saat sendiri. Tapi kenapa aku belum menjadikannya sebagai kebutuhan utama dalam hariku.
Ya Allah, ampuni kelalaianku. Lembutkan hatiku untuk kembali mencintai Kalam-Mu. Jadikan aku hamba yang rindu membuka dan membaca Qur’an setiap hari. Kuatkan aku untuk melawan rasa malas ini, karena aku tahu aku sangat membutuhkannya.
Aku ingin kembali, meski perlahan. Mulai dari satu ayat, satu halaman, hingga menjadi kebiasaan. Karena aku yakin, nikmat membaca Qur’an itu nyata, dan aku ingin merasakannya kembali. Semangati diriku untuk terus dekat dengan Qur’an, karena ia akan menjadi penyelamatku kelak di akhirat.
Dewi Suryati, M.E.
Instagram: @dewi_suryati1
(Departemen PSD ODOJ)
*