Membaca Arah Jika Perang Iran-Zionist Memanjang: Antara Sunatullah dan Akhir Sebuah Hegemoni

Membaca Arah Jika Perang Iran-Zionist Memanjang: Antara Sunatullah dan Akhir Sebuah Hegemoni

Panggilan zaman ini adalah untuk kembali membangun peradaban di atas fondasi ketentuan ilahi, meninggalkan kesombongan materialistis,

Oleh: Salas Aly Temur

3 Syawwal 1447


_"Kaum muslimin akan menyalakan uang dirham Ya’juj dan Ma’juj serta anak panah dan perisai mereka selama tujuh tahun.”_

(HR. Ibnu Majah 4066)


Di tengah pusaran sejarah yang bergerak cepat, dunia kembali disuguhkan pada sebuah momen yang tidak hanya mengguncang panggung geopolitik, tetapi juga menggetarkan kesadaran spiritual umat manusia. Perang antara Iran dan rezim Zionis yang didukung Amerika Serikat, yang telah memasuki pekan ketiga, bukan lagi sekadar konflik kawasan. Ia adalah pertanda bergesernya poros kekuatan, runtuhnya mitos-mitos militer modern, dan gema dari nubuwah (ramalan Nabi SAW)  yang kini terasa nyata di depan mata.


*Goncangan di Benteng Peradaban Barat*


Salah satu kejutan terbesar dari eskalasi ini adalah keterkejutan Donald Trump dan para analis Barat sendiri. Iran, yang selama bertahun-tahun digambarkan sebagai negara yang tercekik sanksi dan terisolasi secara militer, justru menunjukkan ketahanan yang menakjubkan. Rudal-rudal Iran tidak hanya mencapai sasaran, tetapi juga membuat luka yang tidak ringan bagi Israel dan Amerika Serikat. Puncaknya adalah intersepsi terhadap jet tempur F-35—pesawat siluman tercanggih dan termahal di dunia—oleh sistem pertahanan rudal Iran. Sebuah fakta yang memaksa para ahli militer Barat untuk mengakui bahwa teknologi tinggi sekalipun tidak lagi menjadi jaminan mutlak atas kemenangan.


Rilis dari Kementerian Pertahanan Rusia semakin menambah daftar panjang kekalahan pihak lawan: puluhan jenderal Israel tewas, ratusan agen Mossad mati, dan ribuan tentara tak lagi bernyawa. Dunia berdecak kagum, sekaligus bertanya: bagaimana mungkin kekuatan yang selama ini digembar-gemborkan sebagai “tentara tak terkalahkan” di kawasan dapat dipukul mundur dengan cara yang begitu sistematis?


*Postur Baru: Ketika Iran Berbicara dengan Bahasa Kemenangan*


Di tengah momentum ini, Rahbar Mojtaba Khamenei tampil dalam sebuah rilis yang dibacakan berdurasi 12 menit. Ia tidak lagi berbicara sebagai pihak yang memohon penghentian perang, melainkan sebagai kekuatan yang menentukan syarat. Dengan penuh percaya diri, ia mengajak Amerika Serikat dan Zionis untuk memilih: perang jangka panjang yang akan menghabiskan segalanya, atau menerima tuntutan tegas. Tuntutan itu bukan sekadar genjatan senjata, melainkan penarikan total militer AS dari seluruh Timur Tengah, pencabutan semua sanksi terhadap Iran, serta kompensasi finansial atas kerusakan yang ditimbulkan oleh agresi Zionis dan Amerika.


Lebih dari itu, ia memberikan ultimatum 60 hari. Jika tuntutan tidak dipenuhi, maka pilihan pengaktifan senjata nuklir akan menjadi keniscayaan, disertai dengan deklarasi aliansi pertahanan formal antara Iran, China, dan Rusia. Ini bukan lagi sekadar ancaman; ini adalah peta jalan menuju tatanan dunia baru yang multipolar, di mana hegemuni Amerika di Timur Tengah berada di ujung tanduk.


*Kegalauan di Negeri Adidaya AS*


Di seberang lautan, Amerika Serikat sedang mengalami kegalauan yang mendalam. Partai Republik dan Donald Trump terjebak dalam pusaran krisis domestik. Popularitas Trump yang merosot, ancaman kekalahan pemilu legislative paruh waktu, narasi pemakzulan yang membayangi, serta pertarungan dengan The Fed yang menahan suku bunga—menciptakan tekanan luar biasa di dalam negeri. Kebijakan moneter yang ketat berpotensi melonjakkan angka pengangguran, menambah daftar panjang persoalan yang dihadapi pemerintahan AS. Di saat mereka seharusnya bersatu menghadapi krisis eksternal, justru keretakan internal semakin melebar.


*Dunia Islam: Simpati Rakyat dan Keprihatinan atas Elite*


Fenomena menarik terjadi di dunia Islam. Narasi sektarian yang selama ini dibangun perlahan runtuh di hadapan realitas lapangan. Rakyat—baik Syiah maupun Sunni—semakin simpati terhadap perjuangan tentara Iran. Afghanistan, tetangga langsung Iran di Khurasan yang penduduknya mayoritas Sunni, menunjukkan dukungan penuh. Ini membuktikan bahwa resistensi terhadap kolonialisme dan pembelaan terhadap martabat umat melampaui batasan-batasan madzhab yang selama ini dieksploitasi. Hal yang sama terjadi pada denyut harapan Umat Islam grassroot se-dunia. 


Namun, di tengah gelombang simpati rakyat, keprihatinan justru muncul dari perilaku para emir di negara-negara Teluk. Mereka yang dititipkan Allah kekayaan berlimpah, justru tersandera oleh tekanan Zionis dan Trump. Tuntutan dari Donald Trump untuk menyediakan dana sebesar 2,5 triliun dolar demi menghentikan Iran, atau bahkan 5 triliun dolar untuk melumpuhkan negara Iran secara total, adalah bentuk pemaksaan yang memalukan. Situasi ini membangkitkan ingatan kita pada sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Ibnu Majah (4066): _“Kaum muslimin akan menyalakan uang dirham Ya’juj dan Ma’juj serta perisai dan anak panah Yakjuj Wa Makjuj …”_ Sungguh, betapa tepat ramalan itu ketika kekayaan umat Islam justru dibakar untuk membiayai kekuatan destruktif yang merusak sesama muslim.


*Ancaman Eskalasi: Antara Krisis Global dan Hukuman Peradaban*


Jika perang ini terus memanjang, dunia tidak akan lagi sama. Ancaman perang nuklir bukan lagi sekadar skenario film, melainkan kemungkinan yang nyata. Krisis energi dan pangan akan melanda, inflasi yang semula terkendali akan meledak, dan kerentanan ekonomi global mencapai titik nadir. Seluruh kota-kota di dunia akan hidup dalam ketakutan yang mencekam.


Dalam perspektif Al-Qur’an, realitas ini bukan sekadar konsekuensi politik semata. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 58:


_“Dan tidak ada suatu negeri pun, melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).”_


Ayat ini mengingatkan bahwa kehancuran peradaban materi—runtuhnya kota-kota, hancurnya infrastruktur, krisis yang melanda—adalah bentuk dari sunnatullah, hukuman ilahi atas dominasi materialisme, kesombongan, serta sistem yang agnostik dan ateis yang mengabaikan nilai-nilai ketuhanan. Modernitas yang menjauh dari Allah pada akhirnya membawa manusia pada kehancuran yang diciptakan oleh tangannya sendiri.


*Kembali ke Peradaban Ilahi*


Membaca arah konflik ini tidak cukup hanya dengan analisis geopolitik. Ia menuntut kita untuk melihat lebih dalam, pada pesan-pesan spiritual yang terkandung di dalamnya. Kegalauan Amerika, ketangguhan Iran, simpati umat Islam, serta ancaman krisis global adalah potongan-potongan dari sebuah zaman yang sedang bertransformasi.


Sudah saatnya umat manusia, khususnya para pemimpin dan elite Muslim, meninggalkan sikap tersandera oleh kekuatan asing. Sudah saatnya kekayaan yang dititipkan Allah tidak lagi “dinyalakan” untuk kepentingan Ya’juj dan Ma’juj modern. Panggilan zaman ini adalah untuk kembali membangun peradaban di atas fondasi ketentuan ilahi, meninggalkan kesombongan materialistis, dan merajut kembali tatanan dunia yang berkeadilan dan bertauhid.


Wallahu a’lam bish-shawab.

Sebelumnya :
Selanjutnya :