Mengenang Karya Prof. Ir. Chairil Anwar Siregar, Ph.D. Rahimahullah di Mata Sahabat

Mengenang Karya Prof. Ir. Chairil Anwar Siregar, Ph.D. Rahimahullah di Mata Sahabat

Mari memperbanyak amal saleh dan karya yang memberikan manfaat. Tidak harus selalu besar, Mulailah dari yang kecil, Buat terlihat, Buat menarik, Buat mudah.

Oleh: Ahmad Tefur 


BOGOR — Ada orang yang ketika pergi meninggalkan kesedihan. Ada pula yang kepergiannya justru membuat orang-orang yang mengenalnya kembali membuka lembaran kenangan tentang ilmu, kebaikan, dan karya yang pernah ia tinggalkan.

Kepergian Prof. Ir. Chairil Anwar Siregar, Ph.D. rahimahullah menjadi momentum untuk kembali merenungkan makna kehidupan. Bagi seorang sahabat, kehilangan bukan hanya tentang tidak lagi melihat sosoknya hadir di tengah-tengah kehidupan. Lebih jauh dari itu, kepergian menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian, dan apa yang akan kita tinggalkan setelah kita tiada?

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang siapa orang yang paling cerdas. Salah satu jawaban yang masyhur adalah bahwa orang yang cerdas ialah orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Kesadaran terhadap kematian seharusnya tidak membuat kita berhenti berkarya. Sebaliknya, ia menjadi dorongan untuk memperbanyak amal saleh dan menghadirkan manfaat selama masih diberikan kesempatan hidup.

Amal yang Tidak Berhenti pada Besarnya

Dalam kehidupan, kita sering berpikir bahwa amal yang bernilai harus selalu besar. Padahal, salah satu prinsip penting dalam beramal adalah istiqamah.

Amal yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit, memiliki makna yang sangat besar. Karena itu, kebaikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar dan berat.

Membaca basmalah ketika masuk rumah. Bersedekah. Membaca Al-Qur’an beberapa ayat. Membantu orang lain. Menyebarkan ilmu. Atau melakukan berbagai kebaikan sederhana lainnya.

Semuanya mungkin terlihat kecil. Namun, ketika dilakukan secara konsisten, ia akan menjadi kebiasaan dan bagian dari kehidupan.

Begitu pula dengan karya. Sebuah karya mungkin lahir dari proses yang panjang dan sederhana. Tetapi ketika karya itu memberikan manfaat kepada orang lain, manfaat tersebut dapat terus berjalan melampaui usia pembuatnya.

Ilmu yang pernah diajarkan dapat diteruskan. Gagasan yang pernah disampaikan dapat dikembangkan. Tulisan dapat dibaca kembali. Dan pengalaman hidup dapat menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.

Empat Langkah Menjaga Istiqamah

Agar amal baik dapat terus dilakukan, ada empat prinsip sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan.

1. Jadikan Terlihat

Kebiasaan baik akan lebih mudah dilakukan jika ada sesuatu yang mengingatkan kita.

Jika ingin membiasakan suatu amal, buatlah pengingat di tempat yang mudah terlihat. Misalnya tulisan sederhana di rumah yang mengingatkan untuk bersedekah, membaca Al-Qur’an, atau melakukan kebaikan tertentu.

Apa yang terlihat akan lebih mudah mengingatkan kita untuk bertindak.

2. Jadikan Menarik

Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang terkadang terasa membosankan. Karena itu, kebiasaan baik perlu dibuat menarik.

Salah satunya dengan menggabungkan aktivitas tersebut dengan kegiatan lain yang menyenangkan. Cara lainnya adalah melakukannya bersama komunitas.

Ketika sebuah kebaikan dilakukan bersama, muncul semangat untuk saling mendukung dan menguatkan.

3. Jadikan Mudah

Jangan memulai kebiasaan dengan target yang terlalu berat.

Mulailah dari sesuatu yang sederhana, bahkan dapat dilakukan dalam waktu sekitar dua menit.

Jika ingin membangun kebiasaan berolahraga, misalnya, tidak harus langsung berlari jauh. Bisa dimulai dengan mengenakan sepatu olahraga.

Jika ingin membangun kebiasaan membaca, tidak harus langsung menargetkan banyak halaman. Mulailah sedikit.

Setelah kebiasaan terbentuk, perlahan tingkatkan.

Yang terpenting bukan seberapa besar kita memulai, tetapi bagaimana kita dapat mempertahankannya.

4. Jadikan Memberikan Kepuasan

Kebiasaan baik juga perlu disertai dengan melihat perkembangan yang telah dicapai.

Salah satu cara sederhana adalah menggunakan habit tracker. Setiap kali berhasil melakukan kebiasaan yang ditargetkan, berikan tanda pada kotak yang telah disiapkan.

Tanda kecil tersebut dapat memberikan kepuasan sekaligus menjadi motivasi untuk melanjutkan kebaikan pada hari berikutnya.

Sederhana, tetapi dapat membantu menjaga konsistensi.

Karya yang Tetap Hidup Setelah Kepergian

Kepergian Prof. Chairil kembali mengingatkan kita bahwa manusia pada akhirnya akan meninggalkan dunia.

Namun, tidak semua yang ditinggalkan akan ikut berakhir.

Ada ilmu.

Ada karya.

Ada kebaikan.

Ada orang-orang yang pernah mendapatkan manfaat.

Semua itu dapat menjadi jejak yang terus hidup.

Karena itu, mengenang Prof. Chairil tidak semata-mata berarti mengingat sosok yang telah wafat. Lebih dari itu, ia menjadi kesempatan untuk melihat kembali nilai, ilmu, pengalaman, dan karya yang pernah ia berikan.

Seorang sahabat mungkin kehilangan kehadiran fisiknya. Namun, karya dan ilmu yang pernah ditanamkan dapat tetap hidup di tengah orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya.

Hidup untuk Meninggalkan Manfaat

Pada akhirnya, kematian adalah pengingat bahwa kesempatan hidup tidak selamanya ada.

Maka, selagi masih diberikan kesempatan, mari memperbanyak amal saleh dan karya yang memberikan manfaat.

Tidak harus selalu besar.

Mulailah dari yang kecil.

Buat terlihat.

Buat menarik.

Buat mudah.

Kemudian jaga agar tetap istiqamah.

Sebab, bisa jadi sesuatu yang hari ini kita anggap kecil justru menjadi amal yang bernilai besar di sisi Allah.

Dan bisa jadi pula, sebuah karya yang kita hasilkan hari ini akan memberikan manfaat kepada orang lain ketika kita sendiri sudah tidak lagi berada di dunia.

Mungkin inilah salah satu cara terbaik untuk mengenang orang-orang baik seperti Prof. Ir. Chairil Anwar Siregar, Ph.D. rahimahullah: bukan hanya dengan mengingat namanya, tetapi dengan meneruskan semangat ilmu, karya, dan kebaikan yang pernah ia tinggalkan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosanya, menerima amal salehnya, melapangkan tempat peristirahatannya, serta memberikan kesabaran kepada keluarga dan seluruh sahabat yang ditinggalkan. Rahimahullah.


( Tulisan ini disarikan dari materi ust Ahmad Tefur, Mushallah Al I'tisham Budi Agung, Ahad 30/8/2026)

Sebelumnya :