Menyempurnakan Cahaya: Rangkaian Peristiwa Pasca Haji Wada' dan Puncak Risalah Kenabian SAW

Menyempurnakan Cahaya: Rangkaian Peristiwa Pasca Haji Wada' dan Puncak Risalah Kenabian SAW

Perjalanan pasca Haji Wada' bukanlah masa suram, melainkan puncak dari segala puncak risalah

Oleh : Salas Aly Temur (24 Zulhijjah 1447).



Haji Wada’ atau Haji Perpisahan rasulullah SAW dengan umatnya 14 abad yang lalu adalah momen bersejarah di mana Rasulullah SAW berdiri di Padang Arafah, menyampaikan khutbah terakhirnya di hadapan lebih dari seratus ribu sahabat. Di balik khidmatnya ibadah haji tersebut, tersimpan rangkaian peristiwa besar pasca kepulangan beliau ke Madinah yang justru menjadi penentu sempurnanya risalah Islam. Mulai dari turunnya ayat terakhir, dialog teologis bersama Malaikat Jibril, hingga sakit dan wafatnya Rasulullah—semua adalah babak penutup yang sarat hikmah.


*Kesempurnaan Agama di Puncak Arafah*


Sebelum Rasulullah berkhutbah di Arafah, peristiwa besar terjadi: Malaikat Jibril datang menyampaikan firman Allah dalam QS. Al-Maidah [5]: 3, yang artinya:


"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, serta telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu."


Ayat ini bukan sekadar informasi. Ia adalah deklarasi final bahwa Islam telah mencapai puncak kesempurnaannya, baik dari sisi teks syariat, nilai-nilai kemanusiaan, maupun revolusi moral yang mampu mengubah peradaban Jazirah Arab menuju tatanan global.


*Indikasi Perpisahan dalam Khutbah Wada'*


Para sahabat yang cermat membaca isyarat. Meskipun Rasulullah masih dalam kondisi sehat dan bugar, beberapa diksi dalam khutbahnya terasa sebagai pesan perpisahan. Beliau bersabda:


"Wahai manusia, dengarkanlah ucapanku. Sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku akan bertemu kembali dengan kalian setelah tahun ini di tempat ini."


Pernyataan tegas bahwa risalah telah disampaikan seutuhnya menjadi penanda bahwa tugas duniawi beliau hampir rampung. Para sahabat mulai menangis dalam diam, merasakan firasat kepergian sang kekasih Allah.


*Ayat Terakhir: Penegasan Larangan Riba di Madinah*


Selepas melaksanakan Tawaf Wada’ pada tanggal 14 Zulhijah 10 H, Rasulullah dan para sahabat menempuh perjalanan menuju Madinah dan tiba sekitar tanggal 24 Zulhijah 10 H. Di Madinah, beliau mendapati kabar bahwa Bani Amir bin Umair dan Bani Mughirah—dua keluarga elit Quraisy—masih belum mengindahkan larangan riba yang telah disampaikan dalam khutbah di Arafah.


Maka Jibril kembali turun membawa ayat terakhir dari Al-Qur'an, yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 278-280:


"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu... Dan jika orang yang berutang itu dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia mendapatkan kelapangan..."


Ayat ini menjadi penegasan final bahwa sistem ekonomi Islam harus bersih dari eksploitasi ribawi, sekaligus penutup wahyu yang menyempurnakan bangunan syariat.


**Hadits Jibril: Puncak Pengajaran Rukun Agama*


Di akhir bulan Zulhijah 10 H, Rasulullah berkumpul dengan para sahabat di Masjid Nabawi. Tiba-tiba suasana hening. Seorang laki-laki asing berjubah putih dengan rambut hitam pekat masuk ke masjid, tanpa terlihat bekas perjalanan jauh. Ia mendekati Rasulullah, meletakkan lututnya di lutut beliau—layaknya seorang murid yang sungguh-sungguh—dan bertanya:


"Wahai Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?"

Rasul menjawab: "Engkau bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan naik haji jika mampu."


Lalu ia bertanya lagi tentang iman, ihsan, hingga tanda-tanda kiamat. Setiap jawaban dibenarkannya. Setelah pergi, Rasulullah bersabda: "Itulah Jibril, datang mengajarkan agama kepada kalian." (HR. Bukhari No. 48).


Peristiwa ini merangkum seluruh inti ajaran Islam: Islam (syariat), Iman (akidah), Ihsan (spiritualitas), dan eskatologi (ilmu akhir zaman).


*Sakit, Wasiat, dan Wafatnya Sang Kekasih*


Memasuki bulan Safar 11 H, Rasulullah mulai jatuh sakit. Demam tinggi dan sakit kepala menyertainya. Namun semangat juangnya tak surut. Beliau sempat menunjuk Usamah bin Zaid—pemuda berusia 18 tahun—sebagai panglima ekspedisi melawan Romawi Timur. Ini adalah pelajaran berharga bahwa kepemimpinan bukan soal usia, tetapi kompetensi dan kepercayaan.


Dua pekan menjelang wafat, beliau terus berwasiat: "Jagalah salat, jagalah salat, dan budak-budak kalian." Hingga akhirnya, pada Senin pagi, 12 Rabiul Awal 11 H, Rasulullah SAW menghembuskan napas terakhir di pangkuan Sayyidah Aisyah RA. Kepala beliau bersandar lembut, dan kalimat terakhir yang keluar adalah "Allahumma Ar-rafiqul a'la" (Ya Allah..Teman yang Tertinggi).


*Hikmah di Balik Kesempurnaan Risalah*


Dari rangkaian peristiwa pasca Haji Wada', banyak hikmah yang dapat dipetik:


1. Meluruskan syariat haji dari praktik jahiliah dan kesombongan suku.

2. Menghapus budaya riba, dendam darah, dan diskriminasi, sebagaimana ditegaskan dalam khutbah Arafah.

3. Merangkum seluruh inti agama dalam Hadits Jibril, sehingga umat tidak boleh bergerak parsial dalam agama, harus utuh dengan empat pilar dalam hadits jibril. 

4. Mobilisasi generasi muda (Usamah bin Zaid) sebagai bukti bahwa regenerasi dakwah harus terus berjalan.

5. Kesabaran menghadapi ujian dengan sakit kepala dan demam selama dua pekan, tanpa mengurangi kewajiban sebagai pemimpin.


*Penutup*


Perjalanan pasca Haji Wada' bukanlah masa suram, melainkan puncak dari segala puncak risalah. Dalam rentang waktu yang singkat, Rasulullah SAW berhasil menyelesaikan syariat, mengajarkan akidah secara langsung melalui Jibril, menegakkan keadilan ekonomi, dan mewariskan generasi penerus. Wafatnya bukan akhir, melainkan awal dari cahaya Islam yang terus bersinar hingga akhir zaman ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. 


Wallahu a'lam bish-shawab.

14 Zulhijah 1447 H

Sebelumnya :