Nilai TKA Bahasa Inggris Jeblok 24.93 Persen, Tantangan dan Peluang di Era Digital

Nilai TKA Bahasa Inggris Jeblok 24.93 Persen, Tantangan dan Peluang di Era Digital

Tantangan ini harus dijawab secara kolaboratif oleh pendidik, lembaga pendidikan, dan para pengambil kebijakan

Dr. Hj. Nanik Retnowati, M.Hum ( Dekan FKIP UIKA Bogor) 


Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) mata pelajaran Bahasa Inggris secara nasional kembali memantik keprihatinan. Rata-rata nilai yang hanya mencapai 24,93 dari skala 100 menunjukkan kondisi yang jauh dari harapan. Angka tersebut bahkan tidak mencapai seperempat dari nilai maksimal dan tergolong sangat rendah bila dibandingkan dengan capaian mata pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia dan Matematika.

Rendahnya nilai ini bukan sekadar persoalan akademik, tetapi menjadi alarm serius bagi sistem pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia.

Bahasa Inggris dan Tuntutan Globalisasi

Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, Bahasa Inggris memiliki peran strategis sebagai bahasa internasional. Akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, informasi digital, hingga komunikasi lintas negara sebagian besar menggunakan Bahasa Inggris. Namun realitas ini belum sepenuhnya diimbangi dengan kemampuan berbahasa Inggris peserta didik di Indonesia.

Salah satu penyebab mendasar adalah posisi Bahasa Inggris di Indonesia sebagai bahasa asing, bukan bahasa kedua. Berbeda dengan negara seperti Filipina, Malaysia, atau Singapura yang menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, di Indonesia Bahasa Inggris lebih banyak hadir secara formal di ruang kelas sebagai mata pelajaran.

Akibatnya, interaksi peserta didik dengan Bahasa Inggris sangat terbatas. Bahasa tersebut jarang digunakan dalam konteks nyata, sehingga sulit berkembang menjadi keterampilan komunikasi yang aktif dan fungsional.

Pembelajaran yang Kurang Bermakna

Pendekatan pembelajaran Bahasa Inggris yang masih cenderung konvensional. Prinsip pembelajaran yang baik seharusnya bersifat terintegrasi, kontekstual, dan bermakna, yakni apa yang dipelajari memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.

Namun pada praktiknya, pembelajaran masih banyak berfokus pada hafalan struktur bahasa dan aturan gramatika. Peserta didik belajar Bahasa Inggris bertahun-tahun sejak jenjang SMP hingga SMA, tetapi tetap kesulitan memahami teks sederhana, apalagi berkomunikasi secara lisan, meskipun hanya pada tingkat dasar.

Hasil pengamatannya di tingkat sekolah dasar, di mana sebenarnya peserta didik sudah terbiasa menggunakan gawai dan berbagai aplikasi digital. Sayangnya, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang pembelajaran Bahasa Inggris yang komunikatif dan aplikatif.

Pentingnya Inovasi Metode Pembelajaran

Peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Inggris menuntut inovasi metode yang berkelanjutan. Pembelajaran tidak cukup hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi perlu diperluas melalui aktivitas di luar kelas yang tetap terintegrasi dengan tujuan pembelajaran.

Penggunaan media digital, praktik komunikasi sederhana, permainan edukatif, hingga pemanfaatan konten berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran yang utuh dan tidak terpisahkan.

Selain metode, perhatian juga perlu diberikan pada bentuk evaluasi atau tes. Selama ini, penilaian masih banyak berorientasi pada bentuk bahasa atau struktur kalimat. Padahal, kemampuan berkomunikasi seharusnya mendapatkan porsi yang lebih besar, terutama pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Struktur bahasa memang penting sebagai fondasi, tetapi pada tahap tertentu yang lebih utama adalah kemampuan memahami dan menggunakan bahasa tersebut secara fungsional.

Refleksi dan Harapan

Rendahnya nilai TKA Bahasa Inggris sejatinya mencerminkan perlunya pembenahan menyeluruh dalam sistem pembelajaran. Masalah ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jam pelajaran, tetapi memerlukan perubahan paradigma: dari pembelajaran yang berorientasi teori menuju pembelajaran yang berorientasi makna dan komunikasi.

Tantangan ini harus dijawab secara kolaboratif oleh pendidik, lembaga pendidikan, dan para pengambil kebijakan. Dengan pembelajaran yang lebih relevan, inovatif, dan kontekstual, Bahasa Inggris diharapkan tidak lagi menjadi mata pelajaran yang menakutkan, melainkan keterampilan hidup yang mendukung generasi Indonesia menghadapi dunia global.

Sebelumnya :