Ismail Fahmi : mengingatkan bahwa tantangan saat ini bukan hanya informasi yang keliru, tetapi juga berbagai bentuk propaganda yang sengaja dirancang untuk memengaruhi opini publik.
Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat dihadapkan pada tantangan besar berupa banjir informasi yang belum tentu benar. Pendiri Drone Emprit, , menegaskan bahwa verifikasi informasi menjadi salah satu kunci utama dalam menghadapi fenomena perang informasi yang semakin masif terjadi di berbagai platform digital.
Menurutnya, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk tidak langsung mempercayai atau menyebarkan sebuah informasi hanya karena sedang viral. Tidak sedikit konten yang beredar luas di grup percakapan, media sosial, maupun kanal digital lainnya ternyata mengandung informasi yang keliru atau bahkan sengaja dimanipulasi.
“Keberanian untuk mengingatkan bahwa sebuah informasi itu salah menjadi sangat penting. Sebab, ketika informasi yang tidak benar terus disebarkan, ruang publik akan dipenuhi kabar yang menyesatkan dan menggeser informasi lain yang sebenarnya lebih penting untuk diketahui masyarakat,” ujarnya.
Ismail Fahmi menjelaskan bahwa prinsip dasar dalam menyebarkan informasi harus sama dengan prinsip jurnalistik, yakni mengedepankan kehati-hatian dan proses verifikasi. Setiap informasi perlu diperiksa sumbernya, datanya, serta konteks kejadiannya sebelum diteruskan kepada orang lain. Sikap tabayun atau klarifikasi yang diajarkan dalam Islam, menurutnya, sangat relevan diterapkan dalam kehidupan digital saat ini.
Ia mencontohkan bahwa sering kali sebuah kabar yang menarik perhatian publik tersebar luas dalam hitungan jam, sementara koreksi atau klarifikasinya baru muncul satu atau dua hari kemudian. Akibatnya, informasi yang salah sudah lebih dulu dipercaya oleh banyak orang. Karena itu, masyarakat tidak boleh tergesa-gesa dalam menyimpulkan atau membagikan suatu berita.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa tantangan saat ini bukan hanya informasi yang keliru, tetapi juga berbagai bentuk propaganda yang sengaja dirancang untuk memengaruhi opini publik. Oleh sebab itu, umat Islam perlu memiliki sikap kritis dan tidak mudah terbawa arus informasi yang sedang populer jika belum jelas kebenarannya.
Menurut Ismail Fahmi, tugas para pengelola media, pegiat dakwah, dan masyarakat pada umumnya adalah menjadi “penjaga gawang” informasi. Mereka harus memastikan bahwa informasi yang dikonsumsi dan disebarkan kepada umat merupakan informasi yang benar, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jurnalis Muslim Harus Menjaga Umat dari Informasi Haram
Dalam pandangannya, informasi yang salah tidak boleh dianggap sepele. Sebab, dampaknya dapat menimbulkan kesalahpahaman, merusak reputasi seseorang atau kelompok, hingga memengaruhi cara masyarakat mengambil keputusan. Karena itu, keberanian untuk meluruskan informasi yang keliru merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan sosial.
Ia juga menekankan bahwa terkadang diperlukan keberanian untuk berbeda dari arus utama atau opini yang sedang populer. Jika sebuah informasi terbukti tidak benar, maka fakta harus tetap dikedepankan meskipun tidak sesuai dengan narasi yang banyak disukai masyaraka
Kesimpulan
Pesan utama yang disampaikan Ismail Fahmi adalah bahwa verifikasi harus menjadi budaya dalam kehidupan digital. Sebelum menyebarkan informasi, setiap orang perlu melakukan tabayun, memeriksa sumber, data, dan konteksnya. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga penjaga kebenaran di ruang publik. Di tengah maraknya hoaks dan propaganda, sikap kritis, hati-hati, dan berpegang pada fakta merupakan benteng terbaik untuk menjaga kualitas informasi yang diterima umat dan masyarakat luas.
(Sekelumit materi dari Kajian Subuh dari Narasumber Ismail Fahmi pendiri Drone Emperit ,Masjid Baitul Maqdis AQL Islamic Center, Jumat, 12/Juni 2026)