Ratusan Aktivis dari 50 Negara Gagas Tata Kelola GSF di Kuala Lumpur

Ratusan Aktivis dari 50 Negara Gagas Tata Kelola GSF di Kuala Lumpur

SMART 171 hadir sebagai bagian dari delegasi Indonesia yang tergabung dalam GPCI (Global Peace Coalition Indonesia), dan dalam kongres ini bersuara melalui koalisi Sumud Nusantara

MALAYSIA UMMATTV.COM - Semalam (13/10), PM Malaysia Anwar Ibrahim hadir menyapa sekaligus memberi sambutan seremonial dalam penutupan Global Sumud Congress 2026. Selama lima hari dari 9 hingga 13 Oktober, perwakilan aktivis solidaritas Palestina dari puluhan negara berkumpul di Kuala Lumpur untuk membangun tata kelola gerakan yang bisa bertahan lama. 


Global Sumud Congress 2026 adalah kelanjutan langsung dari Global Sumud Flotilla, misi kapal kemanusiaan menembus Gaza. Jika flotilla adalah aksi, kongres ini adalah upaya mengubah aksi itu menjadi organisasi permanen bernama Global Sumud Movement (GSM).


GSM bukan LSM, bukan parpol, bukan organisasi antarpemerintah, tapi gerakan sipil transnasional. GSM memungkinkan ratusan organisasi dari berbagai negara berkoordinasi di bawah satu payung sambil tetap mempertahankan otonomi masing-masing. Visinya satu, “A world in which the Palestinian people are free from Israeli occupation.” Tapi cara mencapainya kompleks, dan itulah yang didebatkan selama lima hari kemarin.


Lima nilai dasar GSM yang disepakati antara lain ialah Sumud (keteguhan dan resiliensi), Nonviolence (aksi sipil tanpa kekerasan), Integrity (kejujuran dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab), Respect (menghormati identitas, budaya, dan otonomi organisasi anggota), dan Accountability (kekuasaan yang transparan dan bisa dipertanggungjawabkan).


SMART 171 hadir sebagai bagian dari delegasi Indonesia yang tergabung dalam GPCI (Global Peace Coalition Indonesia), dan dalam kongres ini bersuara melalui koalisi Sumud Nusantara bersama Malaysia. Mereka hadir memastikan semua organisasi bernafas solidaritas bisa berpartisipasi di bawah aturan yang adil, transparan, dan tetap menempatkan Palestina sebagai pusat.


“Kami ingin memastikan bahwa semua pihak yang menggalang solidaritas dapat berpartisipasi berdasarkan aturan yang adil, memahami bagaimana mandat dan sumber daya dikelola, serta bekerja sama dengan tetap menempatkan Palestina sebagai pusat gerakan.” Kata Maimon Herawati, Ketua GPCI.


Kongres ini jadi bukti bahwa gerakan sipil dunia bisa dibuat rapi dan ajeg. Melahirkan aturan-aturan yang benar bisa dipraktikkan di lapangan. Tentu kongres ini bukan akhir, masih banyak yang akan dilakukan termasuk merumuskan rencana aksi 2027 dengan penanggung jawab, anggaran, dan tolok ukur yang jelas.

Sebelumnya :
Selanjutnya :