Santri mampu tumbuh menjadi generasi Qur'ani yang tidak hanya cerdas dalam ilmu, terampil dalam berbagai bidang.
BOGOR UMMATTV.COM — Momentum penerimaan rapor bukan sekadar penanda berakhirnya satu periode pembelajaran, tetapi juga menjadi saat yang tepat untuk mengevaluasi diri dan mempersiapkan langkah menuju jenjang berikutnya. Hal tersebut disampaikan Ust. Ilham Jaya dalam tausiyahnya di hadapan para santri, orang tua, dan dewan guru, Sabtu ( 27/6/2026).
Ia mengajak seluruh hadirin untuk terlebih dahulu mensyukuri nikmat Allah SWT atas kesempatan belajar yang telah dilalui para santri. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai rapor, tetapi dari sejauh mana proses belajar mampu membentuk karakter dan mengantarkan seseorang kepada kesuksesan yang hakiki.
Dalam pemaparannya, Ust. Ilham mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada para santri, "Apa makna sukses dalam kehidupan?"
Ia kemudian menjelaskan bahwa ukuran kesuksesan menurut Islam sangat berbeda dengan ukuran dunia. Kekayaan, jabatan, status sosial, maupun tingkat pendidikan bukanlah penentu utama keberhasilan seseorang.
"Orang yang dijauhkan Allah dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga-Nya, itulah orang yang benar-benar memperoleh kemenangan," ujarnya.
Karena itu, ia berpesan agar para santri tidak hanya mengejar cita-cita duniawi, tetapi menjadikan ridha Allah dan surga sebagai tujuan akhir kehidupan.
Menurut Ust. Ilham, jalan menuju kesuksesan dapat dibangun melalui tiga pilar utama.
Pilar pertama adalah ilmu pengetahuan. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia hendaklah dengan ilmu, siapa yang menginginkan kebahagiaan akhirat juga dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan keduanya pun harus menempuh jalan ilmu.
Ia menegaskan bahwa Al-Qur'an merupakan sumber ilmu yang paling utama. Oleh karena itu, program hafalan Al-Qur'an yang menjadi ciri khas Sekolah Qur'an merupakan bekal yang sangat berharga bagi masa depan para santri.
Namun, menurutnya, menghafal saja tidak cukup. Al-Qur'an harus dipahami, diamalkan, kemudian didakwahkan sehingga nilai-nilainya benar-benar hadir dalam kehidupan.
Pilar kedua adalah keterampilan. Ust. Ilham menjelaskan bahwa ilmu yang banyak tidak akan memberikan manfaat luas apabila tidak didukung kemampuan menyampaikan dan mengamalkannya.
Kemampuan berbicara di depan umum, komunikasi, kepemimpinan, hingga keterampilan lain merupakan bekal penting agar ilmu yang dimiliki dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
"Bisa saja seseorang memiliki ilmu yang sangat banyak, tetapi karena kurang memiliki keterampilan, manfaat ilmunya hanya dirasakan sedikit orang. Sebaliknya, orang yang ilmunya lebih sedikit namun memiliki kemampuan komunikasi yang baik dapat memberikan manfaat kepada lebih banyak orang," jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keterampilan tanpa ilmu juga berbahaya. Kemampuan berbicara yang tidak dibangun di atas ilmu yang benar dapat menyesatkan diri sendiri maupun orang lain. Karena itu, ilmu dan keterampilan harus berjalan beriringan dan saling menguatkan.
Sebagai pilar ketiga, Ust. Ilham menekankan pentingnya akhlak dan kepribadian yang mulia. Menurutnya, ilmu yang tinggi dan keterampilan yang hebat akan semakin bernilai apabila dihiasi akhlak yang baik, kejujuran, amanah, serta ketakwaan kepada Allah SWT.
Ia berharap para santri mampu tumbuh menjadi generasi Qur'ani yang tidak hanya cerdas dalam ilmu, terampil dalam berbagai bidang, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia sehingga mampu memberi manfaat bagi umat dan bangsa.
Di akhir tausiyahnya, Ust. Ilham mengajak para santri untuk terus belajar, mengembangkan potensi diri, serta menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Dengan bekal ilmu, keterampilan, dan akhlak yang baik, ia optimistis para santri akan meraih kesuksesan, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.