Dari sinilah konsep Taqwa dan Ihsan dapat ditempatkan sebagai hasil penting pendidikan
Penulis : Awalin Ridha, S. Pd (Ketua Departemen Pendidikan DPW WI Aceh)
Pendidikan selama ini sering dipahami sebagai jalan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan manusia. Melalui pendidikan, seseorang dipersiapkan agar mampu membaca perubahan zaman, menguasai teknologi, berpikir kritis, serta mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat. Namun, di balik semua tujuan tersebut, terdapat satu pertanyaan yang sering kali luput untuk diajukan: ke mana pendidikan sebenarnya membawa manusia?
Pertanyaan ini penting, sebab manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang bagaimana sesuatu dilakukan, tetapi juga membutuhkan kesadaran tentang untuk apa pengetahuan tersebut digunakan. Kecerdasan yang tidak disertai arah moral dapat menghasilkan berbagai persoalan. Teknologi, misalnya, dapat membantu manusia menyelesaikan banyak pekerjaan, tetapi pada saat yang sama dapat digunakan untuk mengeksploitasi manusia maupun alam. Begitu pula kekuasaan. Ia dapat menjadi sarana untuk membangun kehidupan masyarakat, tetapi tanpa nilai yang membimbingnya, kekuasaan justru dapat berubah menjadi alat untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Maka, setiap dimensi pendidikan membutuhkan sesuatu yang mampu menjadi pengarah. Bukan sekadar pengetahuan tambahan, melainkan nilai yang dapat menghubungkan ilmu dengan tanggung jawab. Dalam perspektif Islam, Tauhid dapat ditempatkan sebagai katalisator pendidikan.
Katalisator pada dasarnya adalah sesuatu yang membantu mempercepat atau mendorong berlangsungnya suatu proses. Jika konsep ini dibawa ke dalam pendidikan, Tauhid bukan hanya ditempatkan sebagai materi yang dipelajari dalam kelas. Lebih jauh daripada itu, Tauhid menjadi kesadaran yang memberi arah terhadap seluruh proses pendidikan. Ilmu yang dipelajari tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi diarahkan agar melahirkan ketaqwaan, adab, dan ihsan.
Dengan cara pandang seperti ini, belajar matematika tidak sekadar persoalan memperoleh nilai. Belajar sains bukan hanya tentang memahami hukum-hukum alam. Begitu pula teknologi tidak semata-mata dipelajari agar manusia menjadi lebih produktif. Di balik semua itu terdapat kesadaran bahwa ilmu merupakan amanah dan penggunaannya harus dipertanggungjawabkan.
Gagasan tersebut menemukan relevansinya dalam pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas. Al-Attas banyak mengkritik kecenderungan pendidikan modern yang memisahkan ilmu dari pandangan hidup dan persoalan adab. Menurut pemikirannya, persoalan pendidikan bukan hanya mengenai kurangnya pengetahuan, tetapi juga mengenai bagaimana manusia menempatkan sesuatu secara tepat.
Dalam kerangka pemikiran Al-Attas, pendidikan berkaitan erat dengan "Ta'dib", yaitu proses penanaman adab. Artinya, pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang mengetahui sesuatu. Ia juga harus membentuk kemampuan untuk memahami kedudukan dirinya, ilmu, manusia, alam, dan Tuhan dalam tatanan yang benar.
Pemikiran tersebut menjadi penting ketika pendidikan semakin kuat dipengaruhi oleh ukuran-ukuran yang bersifat material. Prestasi akademik, keterampilan, produktivitas, sertifikat, bahkan kemampuan bersaing sering menjadi ukuran keberhasilan. Semua itu memang diperlukan. Akan tetapi, apabila ukuran tersebut berdiri tanpa fondasi nilai, pendidikan berisiko kehilangan pertanyaan paling mendasar, yakni manusia seperti apa yang hendak dibentuk?
Seseorang mungkin saja memiliki gelar yang tinggi, tetapi belum tentu memiliki kejujuran. Ia bisa menguasai teknologi, tetapi belum tentu memiliki kepedulian. Bahkan, seseorang dapat menduduki posisi penting setelah menempuh pendidikan bertahun-tahun, namun tetap menggunakan pengetahuannya untuk merugikan orang lain.
Keadaan tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan dan pendidikan tidak selalu berjalan seiring dengan kebaikan. Pengetahuan memberikan kemampuan, tetapi nilai menentukan ke mana kemampuan itu diarahkan. Dalam konteks inilah tauhid menjadi penting.
Tauhid mengajarkan bahwa manusia adalah hamba Allah. Pada saat yang sama, manusia juga memikul amanah sebagai khalifah di bumi. Kesadaran tersebut semestinya memengaruhi seluruh perilaku manusia, termasuk dalam menggunakan ilmu pengetahuan.
Seorang pemimpin yang memiliki kesadaran Tauhid, misalnya, tidak melihat kekuasaan sebagai kesempatan untuk menguasai orang lain. Ia melihatnya sebagai amanah. Seorang ilmuwan tidak hanya bertanya apakah sesuatu dapat dilakukan, tetapi juga mempertimbangkan apakah sesuatu tersebut layak dilakukan. Seorang pengusaha tidak hanya mengejar keuntungan, melainkan mempertimbangkan keadilan. Demikian pula seorang peserta didik tidak belajar hanya untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi mempersiapkan dirinya agar kelak mampu memberikan manfaat.
Dari sinilah konsep Taqwa dan Ihsan dapat ditempatkan sebagai hasil penting pendidikan. Taqwa membangun kesadaran hubungan manusia dengan Allah, sedangkan Ihsan tercermin dalam bagaimana manusia memperlakukan sesamanya dan lingkungan. Dengan demikian, hubungan manusia dengan Tuhan tidak terpisah dari hubungan manusia dengan kehidupan di sekitarnya.
Pendidikan yang berlandaskan Tauhid, dengan demikian, tidak harus menjadikan seluruh pembelajaran sebagai ceramah agama. Tauhid justru dapat hadir melalui budaya sekolah, keteladanan guru, cara mengelola lembaga, cara menggunakan teknologi, cara memperlakukan peserta didik, hingga bagaimana sekolah membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Pada akhirnya, persoalan pendidikan bukan semata-mata apakah seseorang menjadi pintar atau tidak. Yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan manusia dengan kepintarannya.
Sebab, ilmu dapat menjadi cahaya apabila diarahkan oleh nilai, tetapi dapat pula menjadi alat kerusakan apabila kehilangan tujuan. Pendidikan membutuhkan kemampuan untuk melahirkan manusia yang bukan hanya mengetahui, melainkan juga memahami batas; bukan sekadar mampu, tetapi juga mau bertanggung jawab.
Karena itu, Tauhid layak dipandang sebagai katalisator pendidikan. Ia mempertemukan ilmu dengan adab, kecerdasan dengan tanggung jawab, serta kemampuan manusia dengan kesadarannya kepada Allah. Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan manusia yang mampu menaklukkan masa depan, tetapi manusia yang memahami siapa dirinya, kepada siapa ia bertanggung jawab, dan bagaimana seharusnya ia memperlakukan manusia serta bumi yang diamanahkan kepadanya.