Kajian ini mengingatkan bahwa seorang mukmin tidak diukur dari banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki
Di hadapan para santri Pesantren Lansia I'tisham, Senin (22/6/2026), Ustaz Hendri Tanjung mengingatkan bahwa harta bukan sekadar nikmat yang diberikan Allah, tetapi juga ujian yang akan menentukan kualitas keimanan seseorang.
Dalam kajian bertema Fiqih Harta, beliau mengajak para peserta untuk melihat kembali bagaimana Al-Qur'an memandang kekayaan dan posisi manusia di hadapan nikmat dunia.
Ustaz Hendri menyinggung kisah Qarun yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Qarun dikenal sebagai sosok yang memiliki kekayaan luar biasa hingga kunci-kunci gudang hartanya saja tidak mampu dipikul oleh sejumlah lelaki yang kuat.
Gambaran ini menunjukkan betapa besarnya kekayaan yang dimilikinya. Namun, di balik limpahan harta tersebut tersimpan pelajaran penting.
Qarun terjatuh dalam kesombongan ketika menganggap seluruh kekayaannya diperoleh karena kecerdasan dan kehebatan dirinya semata. Ia lupa bahwa segala nikmat sejatinya berasal dari Allah dan merupakan amanah yang harus disyukuri.
Menurut Ustaz Hendri, ilmu yang benar seharusnya melahirkan keimanan dan amal saleh. Beliau mencontohkan para sahabat Nabi yang tidak tergesa-gesa menambah ilmu sebelum mengamalkan ilmu yang telah mereka pelajari.
Karena itu, tujuan menuntut ilmu bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu yang tidak diamalkan justru dapat menyeret manusia pada kerusakan dan kesombongan.
Beliau juga menjelaskan bahwa kerusakan di muka bumi tidak hanya berbentuk kerusakan fisik seperti penebangan hutan secara liar yang menyebabkan banjir dan longsor. Kerusakan juga dapat muncul dalam bentuk ketidakadilan ekonomi, mengambil hak orang lain, penyalahgunaan jabatan, serta sikap merasa paling berhak atas segala sesuatu.
Semua itu berawal dari hati yang lupa bahwa setiap kelebihan yang dimiliki merupakan karunia Allah.
Kajian ini mengingatkan bahwa seorang mukmin tidak diukur dari banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki. Ketika Allah memberinya kekayaan, ia bersyukur dan menggunakannya di jalan yang diridhai-Nya.
Ketika Allah memberinya keterbatasan, ia tetap bersabar dan ridha terhadap ketentuan-Nya. Inilah hakikat fiqih harta: memahami bahwa harta hanyalah titipan, sedangkan keimanan dan ketakwaan adalah kekayaan sejati yang akan menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat.
Informasi pendaftaran peserta belajar silakan hubungi kontak : +62 857-1537-2243