Yayasan Masjid Cut Meutia Menteng, Jakarta turut ambil bagian dengan menggelar diskusi publik dan doa bersama bertajuk "Menuju Perdamaian Dunia: Kemerdekaan Palestina
JAKARTA UMMATTV.COM - Dukungan masyarakat Indonesia kepada Palestina terus mengalir. Tidak hanya dalam bentuk donasi yang disalurkan, tetapi juga berbagai dukungan moril lainnya.
Yayasan Masjid Cut Meutia Menteng, Jakarta turut ambil bagian dengan menggelar diskusi publik dan doa bersama bertajuk "Menuju Perdamaian Dunia: Kemerdekaan Palestina sebagai Amanat Kemanusiaan dan Keadilan Internasional", Jum'at, 5 Juni 2026.
Ketua Yayasan Masjid Cut Meutia Menteng, H. Benny Suprihartadi, S.H. dalam sambutannya mengatakan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang intelektual dan sosial yang mendorong kepedulian umat terhadap isu-isu kemanusiaan global.
"Ini sebagai wujud nyata kontribusi masyarakat sipil Indonesia dalam mendorong perdamaian dunia yang berlandaskan keadilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia," ujarnya.
Ketua Panitia Pelaksana, William Gunardi Syarief, S.H., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab masyarakat sipil Indonesia dalam merespons krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina. Diskusi ini adalah bagian kecil dari upaya kita bersama untuk memastikan bahwa masyarakat Indonesia memahami secara utuh apa yang sesungguhnya terjadi.
“Kita tidak bisa berdiam diri di tengah penderitaan yang dialami rakyat Palestina. Karena di dalam kaidah fiqih, ma la yudraka kulluh, la tutraka kulluh, yakni sesuatu yang tidak bisa dicapai atau dilaksanakan secara keseluruhan, jangan ditinggalkan semuanya," katanya.
Gunardi menyampaikan, meski kondisi tidak memungkinkan bisa membela disana, setidaknya jangan sampai kita sama sekali tidak membelanya, minimal dengan suara dan dukungan, karena bisa saja hal ini ternyata menjadi washilah penyebab kemerdekaan palestina nanti.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari menyampaikan kondisi terkini rakyat Palestina yang terus menghadapi krisis kemanusiaan mendalam, termasuk keterbatasan akses terhadap pangan, air bersih, dan layanan medis. Ia menekankan
pentingnya dukungan internasional yang tidak terbatas pada dimensi politik semata, tetapi juga menyentuh aspek moral dan spiritual.
Untuk itu, Abdalfatah mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak terjebak dalam perdebatan yang berpotensi memecah solidaritas, tapi justru memaknai perjuangan Palestina dalam perspektif sejarah, keimanan, dan keyakinan terhadap ketetapan Allah SWT.
“Jangan hanya memikirkan apakah suatu gerakan atau kebijakan saat ini berguna atau tidak. Yang lebih penting adalah memikirkan apakah anak-anak di Gaza hari ini sudah mendapatkan makanan atau belum,” ucap Abdalfatah melalui penerjemah Dubes, Ustadz Affan Hamzah Lc, lulusan Universitas Islam Madinah.
Ketua Bidang Ukuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. Muhammad Zaitun Rasmin mengapresiasi diskusi yang diinisiasi Yayasan Masjid Cut Meutia. Ia mengajak seluruh jamaah untuk aktif menyebarluaskan informasi dan isi diskusi ini kepada masyarakat luas. Menurutnya, salah satu jebakan terbesar yang melemahkan solidaritas adalah sikap pasif dengan alasan 'sudah ada yang menyuarakan'.
"Jangan pernah berpikir bahwa sudah ada yang menyuarakan, maka kita tidak perlu menyuarakan. Jangan kita lelah untuk menyuarakan perdamaian Palestina karena nyatanya Israel tidak lelah untuk menyerang Palestina dan membantai masyarakatnya," ujarnya.
Dalam sesi diskusi ini, KH Muhammad Zaitun memaparkan kondisi terkini yang masih jauh dari menggembirakan. Meski bantuan kemanusiaan telah masuk, situasi di lapangan masih sangat memperhatikan.
"Sejak gencatan senjata hingga saat diskusi ini berlangsung, sudah lebih dari 800 orang gugur - termasuk anak-anak-dan serangan zionis masih terus berlanjut tanpa henti," katanya.
Guru Besar Bidang Hukum dan Kesejahteraan Sosial Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof. Heru Susetyo menilai bahwa hukum internasional sedang tidak berfungsi, karena hanya berlaku kepada negara-negara kuat, tapi tidak untuk negara-negara lemah. Ia mencontohkan dua situasi secara gamblang, yakni ketika Rusia menyerang Ukraina di mana respon internasional datang cepat dan tegas berupa sanksi boikot produk Rusia dan tekanan diplomatik.
"Namun untuk Gaza yang dijajah oleh Israel sejak 1948 hingga hari ini tanpa respon hukum internasional yang setara," ucapnya.
Prof Heru juga menyoroti paradoks yang paling menyakitkan dalam sistem internasional saat ini, yakni sebanyak 160 negara telah mengakui Palestina dan siap mendukung keanggotaan penuh Palestina di PBB. Meski di atas kertas angka itu lebih dari cukup untuk menang, namun semua suara itu runtuh hanya oleh satu veto Amerika Serikat.
Husein Gaza, jurnalis internasional dengan pengalaman langsung di lapangan, turut merespons kekhawatiran sebagian kalangan yang beranggapan bahwa kemerdekaan Palestina akan memicu kekacauan dunia atau bahkan mempercepat datangnya hari kiamat. Ia menepis anggapan tersebut dengan merujuk pada dua fakta sejarah Islam yang tak
terbantahkan.
"Pertama, Khalifah Umar bin Khattab pernah membebaskan Palestina dan memegang kendali atas Baitul Maqdis — dan setelah itu dunia tidak kiamat, bahkan peradaban Islam justru berkembang pesat. Kedua, Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil merebut kembali Palestina dan setelah itu pun dunia tetap berjalan, bahkan melahirkan era keemasan baru bagi umat Islam," ujarnya.