ACEH TAMIANG UMMATTV.COM — Ulama nasional Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) menyampaikan khotbah Shalat Idulfitri 1447 Hijriah di Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu (21/3/2026).
Pelaksanaan salat berlangsung di depan Pendopo Bupati dan dihadiri Wakil Bupati Aceh Tamiang Ismail, serta ribuan jemaah.
Aceh Tamiang diketahui merupakan salah satu wilayah di Aceh yang terdampak parah banjir bandang pada akhir tahun lalu.
Dalam khutbahnya, UBN menyoroti kondisi geografis Aceh dan Sumatera Utara yang berada di zona subduksi Indo-Australia dan Eurasia sebagai bagian dari Cincin Api Pasifik.
Pimpinan Perkumpulan AQL itu mengatakan, kondisi tersebut membuat kawasan ini akrab dengan berbagai potensi bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, longsor, hingga banjir.
Menurutnya, banjir bandang yang terjadi tidak hanya disebabkan faktor alam, tetapi juga dipengaruhi aktivitas manusia.
“Curah hujan tinggi di hulu, kondisi perbukitan, serta kerusakan hutan dan alih fungsi lahan menjadi pemicu utama,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendangkalan sungai dan sistem drainase yang belum optimal turut mempercepat meluapnya air ke permukiman warga.
Dari sisi spiritual, UBN menekankan adanya keseimbangan antara azab dan rahmat Allah dalam setiap musibah.
Ia menyebut, apa yang dialami masyarakat tidak semata-mata sebagai hukuman, melainkan juga bentuk kasih sayang Allah bagi hamba-Nya. “Bencana bisa menjadi peringatan bagi yang lalai, tetapi juga menjadi penghapus dosa dan pengangkat derajat bagi orang beriman,” UBN yang juga Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) itu.
UBN mengutip hadis riwayat Imam Bukhari yang menyebutkan bahwa setiap musibah yang menimpa seorang mukmin akan menghapus dosa-dosanya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak merasa aman dari azab Allah, namun juga tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Dalam bagian lain khutbahnya, UBN mengajak jamaah melakukan introspeksi terhadap kondisi lingkungan.
Menurutnya, kerusakan alam tidak terjadi begitu saja, melainkan akibat kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan.
“Ketika hutan ditebang tanpa kendali dan sungai disempitkan, maka alam akan merespons sesuai sunnatullah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa bencana harus menjadi momentum perbaikan, bukan sekadar untuk diratapi.
UBN juga mengaitkan momentum Ramadan sebagai sarana pembentukan karakter dan peningkatan kepedulian sosial.
Ia menyebut Ramadan sebagai madrasah yang melatih kesabaran, solidaritas, serta tanggung jawab terhadap sesama.
Menutup khutbahnya, UBN mengajak masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai titik balik untuk bangkit dari bencana. “Dari trauma mari kita bangkit, dari kehilangan mari kita bersatu, dari bencana kita bangun peradaban,” pungkasnya.
Usai pelaksanaan salat Idulfitri, UBN melanjutkan kegiatan dengan makan bersama para jemaah yang merupakan penyintas bencana. Kegiatan tersebut berlangsung sederhana namun penuh kebersamaan, dengan menu daging sapi yang dinikmati bersama.
UBN bersama Laznas AQL Peduli menyembelih dua ekor sapi untuk kemudian diolah dan disantap bersama masyarakat. Momentum ini menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan antara tokoh agama dan warga terdampak bencana.
Selain itu, UBN juga membagikan 100 lembar karpet masjid dan 1500 bingkisan Lebaran kepada anak-anak guna menambah kebahagiaan mereka di hari raya Idulfitri.
Pembagian bingkisan tersebut disambut antusias oleh anak-anak yang hadir di lokasi Shalat Idulfitri. Kegiatan sosial ini diharapkan dapat memperkuat semangat pemulihan serta mempererat solidaritas masyarakat pascabencana di Aceh Tamiang.*